|
1. Ruang lingkup 1.1. Standar ini memuat kriteria perancangan, prosedur perancangan, konservasi energi dan rekomendasi dari selubung bangunan pada bangunan gedung yang optimal, sehingga penggunaan energi dapat effisien tanpa harus mengurangi dan atau mengubah fungsi bangunan, kenyamanan dan produktivitas kerja penghuni, serta mempertimbangkan aspek biaya. 1.2. Standar ini diperuntukkan bagi semua pihak yang terlibat dalam perancangan, pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan bangunan gedung untuk mencapai penggunaan energi yang effisien. 2. Acuan (1) ASHRAE, Standard on Energy Conservation in New Building Design, 1980. (2) ASEAN-USAID, Building Energy Conservation Project, ASEAN = Lawrence Berkeley Laboratory, 1992. (3) The Development & Building Control Division (PWD) Singapore : “Handbook on Energy Conservation in Buildings and Building Services”, 1992. (4) BOCA : International Energy Conservation Code, 2000. 3. Istilah dan definisi Istilah dan definisi berikut berlaku untuk pemakaian standar ini. 3.1. Absorbtansi radiasi matahari nilai penyerapan energi termal akibat radiasi matahari pada suatu bahan dan yang ditentukan pula oleh warna bahan tersebut. 3.2. Beda temperatur ekuivalen (Equivalent Temperature Difference = TDEk ) beda antara temperatur ruangan dan temperatur dinding luar atau atap yang diakibatkan oleh efek radiasi matahari dan temperatur udara luar untuk keadaan yang dianggap quasistatik yang menimbulkan aliran kalor melalui dinding atau atap, yang ekuivalen dengan aliran kalor sesungguhnya. 3.3 Faktor radiasi matahari (Solar Factor = SF) laju rata-rata setiap jam dari radiasi matahari pada selang waktu tertentu yang sampai pada suatu permukaan. 3.4. Fenestrasi bukaan pada selubung bangunan. Fenestrasi dapat berlaku sebagai hubungan fisik dan/atau visual ke bagian luar gedung, serta menjadi jalan masuk radiasi matahari. Fenestrasi dapat dibuat tetap atau dibuat dapat dibuka. 3.5. Koeffisien peneduh (Shading Coefficient = SC) angka perbandingan antara perolehan kalor melalui fenestrasi, dengan atau tanpa peneduh, dengan perolehan kalor melalui kaca biasa/bening setebal 3 mm tanpa peneduh yang ditempatkan pada fenestrasi yang sama. 3.6. Konservasi energi upaya mengeffisienkan pemakaian energi untuk suatu kebutuhan agar pemborosan energi dapat dihindarkan. 3.7 Nilai perpindahan termal atap (Roof Thermal Transfer Value = RTTV) suatu nilai yang ditetapkan sebagai kriteria perancangan untuk penutup atap yang dilengkapi dengan skylight. 3.8. Nilai perpindahan termal menyeluruh (Overall Thermal Transfer Value = OTTV) suatu nilai yang ditetapkan sebagai kriteria perancangan untuk dinding dan kaca bagian luar bangunan gedung yang dikondisikan. 3.9. Selubung bangunan elemen bangunan yang menyelubungi bangunan gedung, yaitu dinding dan atap tembus atau yang tidak tembus cahaya dimana sebagian besar energi termal berpindah melalui elemen tersebut. 3.10. Sudut bayangan horisontal sudut proyeksi dari sirip vertikal terhadap orientasi dinding di mana positip bila di sebelah kanan dinding dan negatip bila di sebelah kiri dinding. 3.11. Sudut bayangan vertikal sudut proyeksi dari sirip horisontal terhadap bidang horisontal dan selalu dianggap positip. 3.12. Transmitansi tampak transmitansi dari suatu bahan kaca khusus terhadap bagian yang tampak dari spektrum radiasi matahari. 3.13. Transmitansi termal Koeffisien perpindahan kalor dari udara pada satu sisi bahan ke udara pada sisi lainnya.
4. Kriteria perancangan4.1. Persyaratan Selubung bangunan harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut: 4.1.1. Berlaku hanya untuk komponen dinding dan atap pada bangunan gedung yang dikondisikan. 4.1.2. Perolehan panas radiasi matahari total untuk dinding dan atap tidak boleh melebihi nilai perpindahan panas menyeluruh sebagaimana tercantum di dalam standar ini. 4.1.3. Untuk membatasi perolehan panas akibat radiasi matahari lewat selubung bangunan, yaitu dinding dan atap, maka ditentukan nilai perpindahan termal menyeluruh untuk selubung bangunan tidak melebihi 45 Watt/m2. 4.2. Dinding luar 4.2.1. Nilai perpindahan termal menyeluruh. 4.2.1.1. Nilai perpindahan termal menyeluruh atau OTTV untuk setiap bidang dinding luar bangunan gedung dengan orientasi tertentu, harus dihitung melalui persamaan : OTTV = a.[(Uw x (1 – WWR)] x TDEk + (SC x WWR x SF) + (Uf x WWR x DT) ......(4.2.1.1) dimana : OTTV = nilai perpindahan termal menyeluruh pada dinding luar yang memiliki arah atau orientasi tertentu (Watt/m2). a = absorbtansi radiasi matahari. [ tabel 4.2.2.(1) dan 4.2.2.(2) ]. Uw = transmitansi termal dinding tak tembus cahaya (Watt/m2.K). WWR = perbandingan luas jendela dengan luas seluruh dinding luar pada orientasi yang ditentukan. TDEk = beda temperatur ekuivalen (K).(lihat tabel 8) SC = koeffisien peneduh dari sistem fenestrasi. SF = faktor radiasi matahari (W/m2). Uf = transmitansi termal fenestrasi (W/m2.K). DT = beda temperatur perencanaan antara bagian luar dan bagian dalam (diambil 5K). 4.2.1.2. Untuk menghitung OTTV seluruh dinding luar, digunakan persamaan sebagai berikut OTTV = ......….(4.2.1.2) dimana : A0i = luas dinding pada bagian dinding luar i (m2). Luas ini termasuk semua permukaan dinding tak tembus cahaya dan luas permukaan jendela yang terdapat pada bagian dinding tersebut. OTTVi = nilai perpindahan termal menyeluruh pada bagian dinding i sebagai hasil perhitungan dengan menggunakan persamaan (4.2.1.1) 4.2.2. Absorbtansi radiasi matahari ( a ) Nilai absorbtansi radiasi matahari ( a ) untuk beberapa jenis permukaan dinding tak tembus cahaya dapat dilihat pada tabel 4.2.2.(1) dan 4.2.2.(2). Tabel 4.2.2.(1) Nilai absorbtansi radiasi matahari untuk dinding luar dan atap tak tembus cahaya | Bahan dinding luar | a | | Beton berat 1) | 0,91 | | Bata merah | 0,89 | | Beton ringan | 0,86 | | Kayu permukaan halus | 0,78 | | Beton ekspos | 0,61 | | Ubin putih. | 0,58 | | Bata kuning tua. | 0,56 | | Atap putih | 0,50 | | Seng putih | 0,26 | | Bata gelazur putih. | 0,25 | | Lembaran alumunium yang dikilapkan. | 0,12 | 1) untuk bangunan nuklir. Tabel 4.2.2.(2) Nilai absorbtansi radiasi matahari untuk cat permukaan dinding luar | Cat permukaan dinding luar | a | | Hitam merata | 0,95 | | Pernis hitam | 0,92 | | Abu-abu tua | 0,91 | | Pernis biru tua | 0,91 | | Cat minyak hitam. | 0,90 | | Coklat tua. | 0,88 | | Abu-abu / biru tua. | 0,88 | | Biru / hijau tua | 0,88 | | Coklat medium | 0,84 | | Pernis hijau. | 0,79 | | Hijau medium. | 0,59 | | Kuning medium. | 0,58 | | Hijau / biru medium. | 0,57 | | Hijau muda. | 0,47 | | Putih semi kilap. | 0,30 | | Putih kilap. | 0,25 | | Perak. | 0,25 | | Pernis putih | 0,21 | 4.2.3. Transmitansi termal (U) 4.2.3.1. Untuk dinding tak tembus cahaya dan fenestrasi yang terdiri dari beberapa lapis komponen bangunan, maka besarnya U dihitung dengan rumus : U = ……... (4.2.3.1) dimana : Rtotal = Resistansi termal total =  4.2.3.2. Resistansi termal, terdiri dari: (1). Resistansi lapisan udara luar (RUL) Besarnya nilai RUL ditunjukkan pada tabel 4.2.3.2.(1). Tabel 4.2.3.2.(1).- Nilai R lapisan udara permukaan untuk dinding dan atap | Jenis permukaan | Resistansi Termal R (m2.K/Watt) | | Permukaan dalam ( RUP ) | Emisifitas tinggi 1) | 0,120 | | Emisifitas rendah.2) | 0,299 | | Permukaan luar ( RUL ) | Emisifitas tinggi | 0,044 | Keterangan : Emisifitas tinggi adalah permukaan halus yang tidak mengkilap (non reflektif) Emisifitas rendah adalah permukaan dalam yang sangat reflektif, seperti alumunium foil. (2) Resistansi termal bahan (RK) RK = ……………….….. (4.2.3.2.2) dimana : t = tebal bahan ( m ). k = nilai konduktifitas termal bahan ( Watt/m.K) Besarnya harga k untuk berbagai jenis bahan dapat dilihat pada tabel 4.2.3.2.(2). Tabel 4.2.3.2.(2).- Nilai k bahan bangunan | No. | Bahan bangunan | Densitas (kg/m3) | K (W/m.K) | | 1 | Beton | 2.400 | 1,448 | | 2 | Beton ringan | 960 | 0,303 | | 3 | Bata dengan lapisan plaster | 1.760 | 0,807 | | 4 | Bata langsung dipasang tanpa plaster, tahan terhadap cuaca. | | 1,154 | | 5 | Plasteran pasir-semen | 1.568 | 0,533 | | 6 | Kaca lembaran | 2.512 | 1,053 | | 7 | Papan gypsum | 880 | 0,170 | | 8 | Kayu lunak | 608 | 0,125 | | 9 | Kayu keras | 702 | 0,138 | | 10 | Kayu lapis | 528 | 0,148 | | 11 | Glasswool | 32 | 0,035 | | 12 | Fibreglass | 32 | 0,035 | | 13 | Paduan alumunium | 2.672 | 211 | | 14 | Tembaga | 8.784 | 385 | | 15 | Baja | 7.840 | 47,6 | | 16 | Granit | 2.640 | 2,927 | | 17 | Marmer/terazo/keramik/mozaik | 2.640 | 1,298 | (3) Resistansi termal rongga udara (RRU) Nilainya ditunjukkan pada tabel 4.2.3.2.(3). Tabel 4.2.3.2.(3). Nilai R lapisan rongga udara. | No. | Jenis celah udara | Resistansi termal (m2.K/W) | | 5 mm | 10 mm | 100 mm | | 1 | RRU untuk dinding | | | Rongga udara vertikal (aliran panas secara horisontal) | | 1. Emisifitas tinggi. | 0,110 | 0,148 | 0,160 | | 2. Emisifitas rendah | 0,250 | 0,578 | 0,606 | | 2 | RRU untuk atap | | | Rongga udara horisontal/miring (aliran panas kebawah). | | 1. Emisifitas tinggi. | rongga udara horisontal. | 0,110 | 0,148 | 0,174 | | rongga udara dengan kemiringan 22 ½ 0 | 0,110 | 0,148 | 0,165 | | rongga udara dengan kemiringan 450. | 0,110 | 0,148 | 0,158 | | 2. Emisifitas rendah | rongga udara horisontal. | 0,250 | 0,572 | 1,423 | | rongga udara dengan kemiringan 22 ½ 0 | 0,250 | 0,571 | 1,095 | | rongga udara dengan kemiringan 450. | 0,250 | 0,570 | 0,768 | | 3 | RRU untuk loteng | | | 1. Emisifitas tinggi. | 0,458 | | 2. Emisifitas rendah | 1,356 | | | | | | | | | (4) Resistansi termal lapisan udara permukaan (RUP) Nilainya seperti ditunjukkan pada tabel 4.2.3.2.(1). 4.2.4. Beda temperatur ekuivalen. Beda temperatur ekuivalen (TDEk) dipengaruhi oleh : (1) tipe, massa dan densitas konstruksi. (2) intensitas radiasi dan lamanya penyinaran. (3) lokasi dan orientasi bangunan. (4) kondisi perancangan. Untuk menyederhanakan perhitungan OTTV, nilai TDEk untuk berbagai tipe konstruksi tercantum pada tabel 4.2.4. Tabel 4.2.4. Beda temperatur ekuivalen untuk dinding | Berat/satuan luas (kg/m2) | TDEk | | Kurang dari 125 | 15 | | 126 ~ 195 | 12 | | Lebih dari 195 | 10 | 4.2.5. Faktor rerata radiasi matahari Faktor radiasi matahari dihitung antara jam 07.00 sampai dengan jam 18.00. Untuk bidang vertikal pada berbagai orientasi dapat dilihat pada tabel 4.2.5. Tabel 4.2.5. Faktor radiasi matahari (SF, W/m2) untuk berbagai orientasi.1) | Orientasi | U | TL | T | TG | S | BD | B | BL | | 130 | 113 | 112 | 97 | 97 | 176 | 243 | 211 | 1). Berdasarkan data radiasi matahari di Jakarta. Keterangan : Rata-rata untuk seluruh orientasi SF = 147 U = utara TL = timur laut T = timur TG = tenggara S = selatan BD = barat daya B = barat BL = barat laut 4.2.6. Koeffisien peneduh (SC) 4.2.6.1. Koeffisien peneduh tiap sistem fenestrasi dapat diperoleh dengan cara mengalikan besaran SC kaca dengan SC effektif dari kelengkapan peneduh luar, sehingga persamaannya menjadi: SC = SCk x SCEf ……………………. (4.2.6.1) dimana : SC = koeffisien peneduh sistem fenestrasi. SCk = koeffisien peneduh kaca. SCEf = koeffisien peneduh effektif alat peneduh.  Gambar 4.2.6.2. Sinar matahari jatuh pada bidang normal dengan sudut 450 4.2.6.2. Angka koeffisien peneduh kaca didasarkan atas nilai yang dicantumkan oleh pabrik pembuatnya, yang ditentukan berdasarkan sudut datang 450 terhadap garis normal. Sebagai contoh, besarnya koeffisien peneduh kaca seperti ditunjukkan dalam gambar 4.2.6.2, berdasarkan data pabrik pembuat adalah SCk = 0,5. 4.2.6.3. Pengaruh tirai dan atau korden di dalam bangunan gedung, khususnya untuk perhitungan OTTV, tidak termasuk yang diperhitungkan. 4.2.6.4. Perhitungan koeffisien peneduh effektif. (1). Bila sebuah jendela dilindungi atau diteduhi sebagian oleh sarana peneduh luar, maka: (a) Bagian yang ekspos dari jendela, menerima radiasi total IT . (b) Bagian yang diteduhi, menerima radiasi difus ID (2). Perolehan panas radiasi matahari dinyatakan dalam persamaan berikut: H = (AEK x IT ) + (AS x ID). H = (AEK x ID) + (AEK x IL) + (AS x ID). H = (AEK x IL ) + {(AEK + AS ) x ID } …… [ 4.2.6.4.b.(1) ] dimana : H = perolehan panas radiasi matahari. AEK = luas bagian jendela yang terekspos (exposed area). AS = luas bagian jendela yang terlindungi (shaded area). IT = radiasi total ( = ID + IL ). ID = radiasi difus. IL = radiasi langsung. A = luas jendela ( = AEK + AS ). Persamaan 4.2.6.4.2.b.(1), dapat ditulis menjadi : H = (AEK x IL ) + (A x ID ) …….………….[ 4.2.6.4.b.(2) ] (3). Untuk kaca bening dengan ketebalan 3 mm dan tidak terlindung, perolehan panas radiasi matahari adalah: H = A x IT ……………………………….( 4.2.6.4.c ) (4). Besarnya koeffisien peneduh tiap jam, dinyatakan dengan persamaan: SC = ………….[ 4.2.6.4.d.(1) ] SC =  SC = , atau SC = …………..[ 4.2.6.4.d (2) ] dimana : G = , adalah fraksi luas bagian yang ekspos oleh radisi matahari langsung. (5) Nilai koeffisien peneduh (SC) dari suatu sarana peneduh untuk sehari penuh, harus dihitung dari perolehan panas radisi setiap jamnya, kemudian dijumlahkan untuk seluruh waktu 12 jam siang hari. Perolehan panas total ini kemudian dibagi dengan jumlah radiasi total IT, yang melalui kaca bening tak terlindungi setebal 3 mm untuk seluruh jam siang hari yang sama; guna mendapatkan harga SC pada hari tersebut (6) Secara matematis, perhitungan tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut : SCHARI = ………………………..…( 4.2.6.4.f ) (7) Untuk menyederhanakan perhitungan, nilai SC suatu sarana peneduh untuk bulan-bulan tertentu dapat ditentukan berdasarkan data matahari yang berlaku pada hari-hari yang mewakili untuk bulan tersebut. (8). Dalam menentukan SC effektif dari suatu sarana peneduh, diperlukan untuk seluruh 12 bulan setahun. (9). Untuk tidak memakan waktu dan karena tingkat ketelitian bukanlah faktor yang sangat kritis, maka perhitungan SC cukup didasarkan atas bulan-bulan representatif dalam setahun, yakni bulan Maret, Juni, September dan Desember. Hari-hari representatif dari keempat bulan tersebut adalah tanggal : 21 Maret, 22 Juni. 23 September dan 22 Desember. (10) Secara matematis, koeffisien peneduh effektif suatu sarana peneduh dapat dinyatakan sebagai berikut : SCEF= .....(4.2.6.4.j ) dimana : = jumlah untuk bulan Maret. = jumlah untuk bulan Juni. = jumlah untuk bulan September. = jumlah untuk bulan Desember. 4.2.6.5. Menentukan nilai faktor “G”. (1). Fraksi luar bagian jendela yang ekspos oleh matahari, G, pada setiap waktu untuk suatu orientasi tertentu dapat ditentukan dengan geometri matahari. (2). Dengan mengetahui nilai SBV (Sudut Bayangan Vertikal) dan SBH (Sudut Bayangan Horisontal), nilai G untuk sirip horisontal, sirip vertikal dan pelindung matahari bentuk kotak segiempat dapat dihitung, dengan ketentuan sebagai berikut: q1 = SBV (selalu positif). [ Gambar 4.2.6.5.(2).a ] q2 = SBH (positif untuk arah kanan dinding, negatif untuk arah kiri dinding). [ Gambar 4.2.6.5.(2).b ]  Gambar 4.2.6.5.(2).a. Sudut Bayangan Vertikal dan Horisontal j1 = sudut proyeksi dari sirip horisontal terhadap bidang horisontal (dianggap positif). [Gambar 4.2.6.5.(2).a ] j2 = sudut proyeksi sirip vertikal terhadap orientasi dinding (positip bila di sebelah kanan dinding; negatip bila di sebelah kiri dinding).[Gambar 4.2.6.5.b.(2).b]  Gambar 4.2.6.5.b.(2).b. Sudut proyeksi sirip horisontal dan vertikal (3) Sirip horisontal di atas jendela. Sirip horisontal di atas jendela seperti ditunjukkan pada gambar 4.2.6.5.(3).  Gambar 4.2.6.5.(3). Denah jendela serta lubang cahaya dengan sirip horisontal di atas jendela AS = P.sin j1 + P.Cos j1.tan q1. = P.(sin j1 + Cos j1.tan q1 ) AEK = A – AS .  = 1 - . (sin j1 + cos j1.tan q1) , atau : G1 = 1 – R1. (sin j1 + cos j1.tan q1) …………….. (4.2.6.5.3) dimana : G1 = AEK/A, dan R1 = P/A, untuk proyeksi horisontal. Catatan G1 ³ 0. (4). Sirip vertikal menerus Untuk sirip vertikal menerus dalam suatu deret seperti pada gambar 4.2.6.5.(4).  Gambar 4.2.6.5.(4) Denah jendela serta lubang cahaya dengan sirip vertikal menerus AS = P.Cos j2.tan q2. - P.sin j2 = P.( Cos j2.tan q2 - sin j2 ) = 1 - .( Cos j2.tan q2 - sin j2 ), atau : G2 = 1 – R2. ( cos j2.tan q2 - sin j2 ) …………( 4.2.6.5.d ) dimana : G2 = AEK/A, dan R2 = P/A, untuk sirip vertikal. Catatan G2 ³ 0 (5). Peneduh berbentuk Kotak Sarana peneduh berbentuk kotak segiempat dan sirip kombinasi vertikal dan horisontal seperti ditunjukkan pada gambar 4.2.6.5.(5). G1 = 1 – R1. (sin j1 + cos j1.tan q1) G2 = 1 – R2.tan q2.  Gambar 4.2.6.5.(5). Peneduh dengan sirip horisontal dan vertikal Karena G1 dan G2 bebas satu sama lainnya, maka efek kombinasi dari kedua komponen dapat dinyatakan sebagai berikut : G3 = G1 x G2 ……….…………. (4.2.6.5.e) Catatan G3 ³ 0. 4.3. Penutup atap 4.3.1. Nilai perpindahan termal atap 4.3.1.1. Nilai perpindahan termal dari penutup atap bangunan gedung dengan orientasi tertentu, harus dihitung melalui persamaan : RTTV = ........(4.3.1.1) dimana : RTTV = nilai perpindahan termal atap yang memiliki arah atau orientasi tertentu (Watt/m2). a = absorbtansi radiasi matahari. [ tabel 4-2.2.(1) dan 4-2.2.(2 )]. Ar = luas atap yang tidak tembus cahaya (m2). As = luas skylight (m2). A0 = luas total atap = Ar + As (m2). Ur = transmitansi termal atap tak tembus cahaya ( Watt/m2.K). TDEk = beda temperatur ekuivalen (K). (lihat tabel 4-3.3). SC = koeffisien peneduh dari sistem fenestrasi. SF = faktor radiasi matahari (W/m2). Us = transmitansi termal fenestrasi (skylight) (W/m2.K). DT = beda temperatur perencanaan antara bagian luar dan bagian dalam (diambil 5 K) Bila digunakan lebih dari satu jenis bahan penutup atap, maka transmitansi termal rata-rata untuk seluruh luasan atap dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut : Ur = ........……... (4.3.1.2) dimana : Ur = transmitansi termal rata-rata atap (W/m2.K). Ur1, Ur2, Urn = transmitansi termal dari berbagai bagian atap yang berbeda (W/m2.K). Ar1, Ar2, Arn = luas dari berbagai jenis atap yang berlainan (m2). Bila digunakan lebih dari satu jenis bahan penutup atap, maka berat atap rata-rata dapat dihitung berdasarkan persamaan sebagai berikut : Wr = .....…..….....(4.3.1.3) dimana : Wr = berat atap rata-rata (kg/m2). Wr1, Wr2, Wrn = berat dari jenis atap yang berlainan (kg/m2). 4.3.2. Transmitansi termal atap (Ur) Nilai transmitansi termal maksimal penutup atap (Ur), ditunjukkan pada tabel 4.3.2. Tabel 4.3.2. Nilai transmitansi termal atap (Ur ) maksimal | Berat per satuan luas atap (kg/m2) | Transmitansi termal maksimal (W/m2.K) | | Di bawah 50 1) | 0,5 | | 50 ~ 230 2) | 0,8 | | diatas 230 3) | 1,2 | Keterangan : 1) Atap genteng. 2) Atap beton ringan. 3) Atap beton ketebalan > 6 inci ( 15 cm ) 4.3.3. Beda temperatur ekuivalen atap (TDEk) Untuk menyederhanakan perhitungan nilai perpindahan termal atap , maka beda temperatur ekuivalen untuk berbagai penutup atap ditentukan sesuai tabel 4.3.3. Tabel 4.3.3. Beda temperatur ekuivalen berbagai penutup atap | Berat atap per satuan luas (kg/m2) | Beda temperatur ekuivalen (TDEk), K | | kurang dari 50 | 24 | | 50 ~ 230 | 20 | | lebih dari 230 | 16 | 4.3.4. Faktor radiasi matahari atap (SF) Nilai faktor radiasi matahari untuk bidang horisontal yang dihitung antara jam 07.00 sampai dengan 18.00 adalah : SF = 316 Watt/m2. 4.3.5. Koeffisien peneduh atap (SC) Koeffisien peneduh (SC) untuk skylight dari bahan plastik, tercantum pada tabel 4.3.5. Tabel 4.3.5. Koeffisien peneduh (SC) untuk skylight | Lengkung an (kubah = dome) | Transmi- tansi ( t ) | Diffuseringan (tembus cahaya) | Penahan (curb) | Koeffisien peneduh (SC) | | Tingggi | Perbandingan lebar terhadap tinggi | | Jernih | 0,86 | Ya 0,58 | 0 | ¥ | 0,61 | | 230 | 5 | 0,58 | | 460 | 2,5 | 0,50 | | Jernih | 0,86 | Tidak ada | 0 | ¥ | 0,99 | | 230 | 5 | 0,88 | | 460 | 2,5 | 0,80 | | Bening, tembus cahaya | 0,52 | Tidak ada | 0 | ¥ | 0,57 | | 460 | 2,5 | 0,46 | | Bening, tembus cahaya | 0,27 | Tidak ada | 0 | ¥ | 0,34 | | 230 | 5 | 0,30 | | 460 | 2,5 | 0,28 |  Gambar 4.3.5. Skylight
|